English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, July 5, 2014

Iklan Jokowi-JK di Media Warga Jawa Barat

Posted by Unknown on 10:16 AM




Sumber: Iklan Jokowi-JK di halaman muka dan di halaman 25 koran Hari ini (5/7) tampilan muka koran "Pikiran Rakyat" atau PR berubah total. Kampanye capres sangat kuat menyeruak memasuki ruang redaksi koran terbesar di Jawa Barat ini. Tata wajah berita di PR tergeser oleh kepentingan politik, iklan capres. Tentu ini menjadi berkah bagi PR karena iklan akan menguatkan pundi-pundinya melalui bayaran dari pemasang iklan yang berani bertaruh semahal apapun agar bisa memborbardir khalayak pembaca media tersebut. Namun, di sisi lain perubahan tampilan itu juga beresiko koran tersebut terstigma mendukung salah satu capres.

Kedua pasangan capres hari ini memang sama-sama memasang iklan kampanye di PR dengan porsi yang berbeda. Jokowi-JK sekilas unggul dalam mensosialisasikan dirinya dengan bombardir iklan yang mengubah total tampilan muka koran "PR", beriklan dua halaman berwarna penuh dan seperempat halaman berwarna di dua halaman lainnya. Sedangkan Prabowo-Hatta seolah kekurangan tenaga, hanya memasang satu iklan hitam putih setengah halaman.



Capres Dukungan Modal Besar

Jokowi-JK memborbardir rakyat tatar sunda dengan memasang iklan yang fantastis. Ada empat halaman yang saya lihat dipasangi iklan capres dari koalisi pimpinan PDIP. Satu halaman berwarna diletakkan di halaman muka, satu halaman berwarna lainnya di halaman 25 bersebelahan dengan kolom opini, serta seperempat halaman berwarna di halaman 3 dan 4.




Sumber: Iklan Kontrak Politik dan Program Kerja Jokowi-JK di koran

Apa keuntungan politik dalam penempatan iklan di halaman-halaman PR tersebut? Iklan di halaman muka, yang menggeser halaman pertama pikiran rakyat menjadi ke bagian dalam tentu akan kuat mempengaruhi khalayak pembaca PR. Dengan penempatan di halaman muka, maka iklan itu akan otomatis terpampang di setiap loker koran yang menjajakannya tanpa harus membeli bahkan membukanya sekalipun.






Pikiran Rakyat sebetulnya beresiko dengan menampilkan iklan capres di muka depannya seperti ini. Seolah-olah PR telah menjadi koran capres Jokowi-JK karena head tulisan Pikiran Rakyat masih terpampang di bagian atas iklan. Atau bisa jadi memang PR telah berafiliasi secara diam-diam kepada capres Jokowi-JK dengan layout seperti itu?

Iklan Jokowi-JK di halaman 25 yang bersandingan dengan kolom opini juga memiliki posisi strategis. Pembaca kritis biasanya akan langsung membuka halaman opini untuk mengetahui artikel apa yang dimuat di PR. Sekalipun opini PR tidak menampilkan artikel tentang kampanye pemilu, namun dengan posisi iklan di sebelah kiri dan kolom opini di sebelah kanan cukup menarik perhatian pembaca untuk menyimak sejenak iklan revolusi mental khas Jokowi-JK.

Iklan berwarna lainnya Jokowi-JK di halaman 3 dan 4 menjadi penguat karena berisi tentang kontrak politik dan program nyata pasangan capres nomor urut 2 tersebut. Pembaca disuguhkan uraian yang lebih mendalam tentang rencana aksi nyata calon pemimpin negara tersebut. Diharapkan dengan uraian yang lebih panjang, masyarakat bisa lebih memahami dan kemudian memberikan pilihan kepada pasangan capres tersebut. Capres Dukungan Ulama Besar

Berbeda dengan iklan Jokowi-JK yang sangat bombastis , iklan Prabowo Subianto-Hatta terlihat kurang greget. iklannya hanya setengah halaman dengan warna hitam putih di halaman 6. Secara kuantitas iklan tersebut kalah jauh dari iklan capres lawan. Secara layout iklan itu juga kurang menarik karena tidak berwarna, hanya hitam putih. Bentuk iklan yang demikian sederhana cenderung membuat pembaca koran untuk melewatkan dan tidak membacanya secara seksama.




Sumber: Iklan Prabowo-Hatta Berwarna Hitam Putih di koran

Namun, bila diamati cukup lama ternyata sekalipun iklan minimalis, konten iklan Prabowo-Hatta akan sangat kuat menohok kesadaran pembaca. Iklan ini diletakkan di bawah kolom pendidikan. Di bagian atas iklan tercantum endoresment doa dari ketua MUI Kota Bandung, Prof. Dr. KH. Miftah Faridh kepada pasangan capres nomor urut 1 ini. Doa yang disampaikan beliau ketika Hatta Rajasa dan timnya menyambangi rumah tokoh kharismatik Jawa Barat tersebut pada 2 Juli 2014 lalu. Doa dari seorang ulama besar yang diakui keluasan ilmu dan kebijaksanaannya.


"Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang tergetar pada hati kami. Kami tulus untuk berbuat sesuatu. Kami percaya kepada Prabowo Hatta untuk menata negeri ini. Tolong Kami ya Allah, Tolong kami rakyat Indonesia agar diberi petunjuk untuk memperoleh pilihan yang baik.... Penuhi do'a kami ya Allah". (Video lengkapnya silahkan ditonton di sini)




Sumber: Doa KH. Miftah Faridh untuk Dukungan pada Prabowo-Hatta di koran

Di bagian bawah iklan dilengkapi juga dengan beberapa foto yang cukup menarik perhatian. Foto Hatta Rajasa bersama KH. Miftah Faridh di depan rumah ketua MUI tersebut, Foto Ridwan Kamil Untuk Bandung dan Aria Bima Arya Sugiarto dua wali kota muda dari Bandung dan Bogor berfose di sebuah acara kampanye Prabowo-Hatta, serta foto Prabowo di tengah lautan masyarakat Bandung dalam kampanye beberapa hari yang lalu.

Apa makna dari iklan Prabowo-Hatta tersebut? Pendekatan iklan Prabowo-Hatta jelas tidak lagi pada sisi rasionalitas yang sudah banyak bertebaran di iklan-iklan spanduk pinggir jalan atau dalam debat capres setiap akhir pekan. Iklan Prabowo-Hatta lebih menohok sisi psikologis dan spiritual masyarakat. Dukungan ulama besar sekaliber KH. Miftah Faridh menjadi pendorong spiritualitas pasangan capres yang didukung banyak partai Islam ini. Apalagi kalimat dalam doa KH. Miftah Faridh cukup menyentuh kalbu dan mampu menggetarkan jiwa dan mendorong pembacanya secara spontan untuk mengucapkan "Amin..." di akhir doanya tersebut.






Sumber: Foto Ridwan Kamil dan Arya Bima di iklan Prabowo-Hatta di koran PR

Tampilan foto dua walikota muda di Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Bima Arya juga cukup menarik perhatian pembaca. Kiprah keduanya dalam mengelola pemerintahan daerah bisa menjadi faktor penguat bagi warga dua kota tersebut untuk juga memberikan pilihan sesuai dengan pilihan pemimpin daerahnya.

Iklan Prabowo-Hatta yang berwarna hitam putih juga memiliki makna yang cukup mendalam. Iklan tersebut menunjukkan bahwa mereka ingin tampil sederhana, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar, yang penting pesannya kuat dan bisa sampai ke masyarakat. Ini berbeda dengan iklan Jokowi-JK yang bombastis, mengeluarkan banyak biaya dan malah tidak mencerminkan sifat kesederhanaan dan seolah membuat jarak ke'KITA"an dengan masyarakat yang ingin diraihnya. Iklan Jokowi-JK seolah sengaja tidak menjadikan kalimat "adalah KITA" sebagai tagline-nya.

Iklan Prabowo-Hatta yang hitam putih justru lebih menunjukkan sisi kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat Jawa Barat. Iklannya lebih religius, lebih mengedepankan dukungan ulama melalui donya yang sangat spiritual tanpa embel-embel meminta janji untuk mendapatkan peringatan hari spesial bagi kelompoknya.



Iklan Media dan Preferensi Masyarakat

Banyak riset yang memperlihatkan bahwa iklan di media massa tidak mempengaruhi preferensi atau pilihan warga dalam pemilu. Iklan hanya sekedar memperkuat pilihan yang sudah dicanangkan calon pemilih dalam hatinya. Mengikuti teori uses and gratification masyarakat cenderung memilih media atau berita yang akan memuaskan kebutuhan mereka. Mereka akan memilih media yang memiliki kesamaan dengan preferensi mereka. Mereka akan menghindari membaca atau memperhatikan iklan yang tidak sesuai dengan pilihan mereka.

Media Massa menangguk keuntungan dengan banyaknya iklan yang dipasang oleh tim sukses capres. Hanya saja mereka sedang bermain resiko. "Pikiran Rakyat berani menampilkan iklan Capres Jokowi-JK di halaman mukanya sehingga menggeser halaman satu ke bagian dalam tentu menangguk keuntungan besar dengan bayaran dari Capres tersebut. Namun, sejatinya "PR sedangkan bermain api. Pelanggan koran yang bukan pendukung Capres nomor urut 2 bisa saja menghentikan langganannya. Ini yang dulu pernah dialami oleh "Jawa Pos" yang menyisipkan iklan Golkar di pemilu masa Orde Baru. Kebijakan yang tidak dipikir panjang itu berbuntut berkurangnya pelanggan Jawa Pos selama beberapa bulan. Pembaca koran JP menghukumnya karena sikap redaksi yang berlebihan dalam meraih keuntungan politik.

Seberapa pun kuatnya bombardir iklan capres, semuanya akan kembali kepada masyarakat. Merekalah yang berhak untuk memilih tanpa paksaan. Merekalah yang berdaulat untuk menentukan nasib bangsa ini, bukan media massa.

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Deviantart
  • Instagram @ajoe354
  • Facebook Angga Joe
  • My Whatsapp
  • Github Ajoe354

Search Site

 
  • Your IP Addres

    IP