English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, June 3, 2014

Curug Cimarinjung, Sukabumi

Posted by Unknown on 11:15 AM

“Sekali dalam setahun, pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya”

Screenshot_2013-10-22-13-53-09

Kutipan itu pernah sekilas saya baca di salah satu post di path teman, tertulis dengan background foto seorang cewek memegang koper dengan kedua tangannya. Simple, tapi cukup mengena.

Selama ini, untuk jalan-jalan sendiri, saya pergi ke tempat itu-itu saja (bogor, carita, anyar, pulau seribu dan sekitarnya). Nah minggu lalu, saat ada libur bersama Idhul Adha, saya memutuskan untuk mencari destinasi wisata lain di Sukabumi yang belum pernah saya kunjungi.



Tujuan saya jatuh ke curug Cimarinjung.

(ada yang pernah dengar nama Curug itu? Kalau belum, silahkan baca)
Terletak Di Desa Girimukti Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi.
Tempat yang asing buat saya, saya belum pernah ke daerah itu. Coba cari di google map, ketemu koordinat untuk ke desa Ciwaru.

Saya masih hafal jalan untuk setidaknya sampai di pertigaan bagbagan, yang kalau lurus ke palabuhanratu, dan kiri ke Ujung Genteng. Saya belok kiri dan berhenti sejenak untuk mengaktifkan google map. Jalanan cukup mulus untuk dilalui, walau masih terlihat perbaikan di beberapa titik.


Di beberapa titik pertigaan atau perempatan, selain direction dari gmap yang saya dengar melalui earphone, pasti saya akan tanya ke penduduk sekitar yang ada disitu atau sesekali berhenti untuk melihat layar peta.

Screenshot_2013-10-13-08-52-03


Rute dari pertigaan bagbagan, saya menuju ke arah Kiara Dua. Sampai di pertigaan Kiara Dua, saya belok kanan ke arah Ujung Genteng/Surade/Jampang. Beberapa km kemudian ada papan petunjuk untuk belok kanan ke arah Ciemas, yang kalau lurus masih ke Jampang. Nah saya belok kanan, dengan tujuan Ciemas, melalui kecamatan Waluran dan Taman Jaya.

Setelah Taman Jaya, jalanan menjadi sangat jelek untuk dilalui. Parahh… bener-bener parahh jalanannya, saya sangsi mobil-mobil berani atau maj lewat sini. Medan berbatu, aspal berlubang, pasir berdebu tebal membuat kita harus pelan dan ekstra hati-hati. Kurang lebih 1 sampai 1.5 jam untuk melalui medan seperti ini sampai ke desa Ciwaru, titik perhentian dari petunjuk google maps saya.



Di pusat desa Ciwaru, saya dihadapkan pada 2 pertigaan. Waktu itu ada ibu-ibu yang lewat, saya tanyakan arah ke Curug Cimarinjung, dan saya pun melaju mengikuti arah yang ditunjukkan ibu tersebut. Kurang lebih 20 menit perjalanan, saya dihadapkan pada akhir jalan beraspal, yang dilanjutkan jalan menyempit berbatu yang susah untuk dilalui kendaraan. Kenetulan ada anak abg cewek, dan saya tanyakan ke dia arah Curug Cimarinjung, dia pun menginformasikan bahwa saya salah jalan, dibilang harusnya di pertigaan desa Ciwaru saya mengambil arah sebaliknya. Saya pun putar balik ke arah pertigaan desa tadi.

Sesampainya di pertigaan, saya tanyakan lagi kepada dua orang, satu bapak-bapak dan satu abg cowok, mengenai arah ke Curug Cimarinjung. Yang bapak-bapak memberi saya arah sama seperti arah tadi yang saya salah jalan, dan yang abg cowok tidak tahu dimana curug itu, tapi abg cowok itu menanyakan ke bapak dan ibu penjual es campur yang mangkal di area situ. Dan dari bapak ibu penjual es campur inilah saya diberi petunjuk arah yang benar.



Saya disuruh mengambil arah ke tempat pelelangan ikan Ciwaru, terus nanti menyusuri jalan di sepanjang pantai Palangpang, dibilang curug Cimarinjung akan terlihat dari kejauhan.

Sebelum sampai ke TPI Ciwaru, ada satu jembatan yang kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan. Motor saja harus berganti-gantian lewat kalau ada yang berpapasan, gimana kalau mobil. Saya cukup sangsi.





Setelah melewati TPI Ciwaru, dan pantai Palangpang sudah ada di sisi kiri saya, jalanan mulai menyempit, tetapi beraspal cukup mulus. Saat di sepanjang jalan ini saya sedang semangat-semangatnya, curug Cimarinjung sudah mulai terlihat di kejauhan. Udara pantai cukup segar saat itu meniup lembut pepohonan kelapa di sisi-sisi jalan. Setelah kurang lebih 10 menit melalui jalan beraspal ini, akan berganti oleh jalanan tanah menuju ke arah curug.

20131013_092332


Sampai di area yang kanan kiri nya persawahan, saya menanyakan arah curug ke kakek-kakek yang sedang bertani. Dia bilang saya harus melalui sisi saluran irigasi kecil, untuk nanti motor dapat saya parkir di ujung jalan. Cukup sempit jalanan di sisi saluran irigasi ini, harus ekstra hati-hati.


20131013_092704

Sekitar 100 meter jalanan sudah tidak memungkinkan untuk dilalui motor, akhirnya motor saya parkir di gubug yang ada di sisi sawah situ. Perjalanan saya lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri sisi irigasi, pepohonan rindang yang cukup lebat sudah menyambut saya. Sunyi sekali suasana saat itu.



Kurang lebih 100 meter berjalan kaki, saya harus melewati celah bebatuan untuk sampai ke lokasi curug. Curug Cimarinjung sudah semakin terlihat dari balik celah bebatuan itu, membuat saya semakin semangat.

IMG_5957

Setelah melewati celah batu tersebut, ada tanjakan kecil dari saluran iriasi yang harus didaki. Di ujung tanjakan itu saya berhenti sejenak, sungai Cimarinjung mengalir jauh di bawah, di sisi kiri saya, cukup membuat merinding bagi yang punya pobhia ketinggian.



Saya berhenti sejenak, berdiri, mengatur nafas …

This is it!



Di depan saya, tersaji pemandangan luar biasa. Curug Cimarinjung.
Setelah 4 jam perjalanan dari Kota Sukabumi, yang tersaji di depan saya ini membayar semua kelelahan tersebut.
IMG_5954

Dengan tulus saya menyanjung Curug Cimarinjung.
Sukabumi sangat beruntung memiliki curug ini.
Setelah terkagum, hal yang selanjutnya saya sadari adalah….
Saya Sendirian di lokasi ini.

OK, confirmed, saya bener-bener sendirian di sini. Hanya saya dan Sang Cimarinjung.
Dan you know what, saya pada dasarnya penakut. Hihihi

Sambil mengeluarkan kamera dan tripod, secara lirih saya berucap “Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum, Punten punten, mau numpang motret, buat pariwisata Sukabumi.”
hehe…


Setelah mengumpulkan keberanian, saya mulai berjalan dan mencari lokasi memotret yang bagus. Saya berjalan ke sisi seberang sungai, melintasi sungai yang kebetulan alirannya kecil di musim kemarau ini.

Ada pohon rindang yang berdiri sendiri diantara bebatuan-bebatuan di sisi curug, sangat bagus untuk dimasukkan ke dalam frame.
IMG_5930--

Saya mencoba ke lokasi yang lain di belakang saya yang posisinya sedikit di atas. Rerumputan tinggi yang tebal menutupi tanah kering yang harus saya pijak. Menggunakan tripod, saya menusuk-nusuk rerumputan tersebut untuk memastikan tanah yang saya pijak cukup solid. Walaupun begitu, saya sempat terperosok sekali, kaki kanan saya terbenam dalam lubang yang untung tidak terlalu dalam.

Saya memotret di lokasi baru ini kira-kira 10 menit sampai kemudian sayup-sayup saya mendengar suara orang di kejauhan. Saya lihat di sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Hihihihi…
Lama-lama suara-suara itu terdengar semakin jelas, dan jelas, hingga akhirnya….

ah…

Ada rombongan anak-anak kecil datang, hendak bermain di air terjun ini. Anak kecil beneran, nginjek tanah kok mereka… hahaha… penduduk desa sekitar sini kayaknya.

IMG_5936


Saya jadi merasa lebih tenang lokasi ini mulai ramai, walau di satu sisi foto landscape saya jadi cukup terganggu. Dalam foto sendiri, adanya orang di frame kadang sangat diperlukan sebagai pembanding.


IMG_5944--


Harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan clear shot. Hehe…

IMG_5938




IMG_5948

Anak-anak tadi terlebih dahulu meninggalkan lokasi ini, saya pun mulai meninggalkan lokasi ini setelah saya rasa cukup. Sebelumnya saya sempat berucap lirih, terima kasih Cimarinjung.



Rombongan anak-anak tadi ternyata masih berkumpul, tidak jauh dari celah batu, disisi saluran irigasi. Terlihat mereka sedang membakar ikan dan menanak nasi. Saya pun mengobrol sejenak dengan mereka. Dari obrolan-obrolan ringan hingga sampai saya ceritakan bahwa tadi saya merasa merinding saat sendirian disini, dan mereka menceritakan mitos-mitos yang biasa mereka dengar dari orang tua akan curug Cimarinjug ini. Hihihihi
IMG_5958
IMG_5962


Mereka sempat meminta saya untuk join makan bareng, atau istilah urang Sunda, ngaliwet. Tetapi saya tidak bisa, saya bilang saya harus segera pulang karena kondisi langit sudah mendung.

Dalam perjalanan, saya menyempatkan sejenak untuk foto-foto di muara sungai Cimarinjung. Banyak anak-anak kecil yang berenang di sungai sambil lompat dari jembatan bambu. Maaf kalo foto-fotonya agak berbau porno hihihi..

IMG_5981
IMG_5990


Dan saya sempat berhenti sejenak juga ke tepi pantai Palangpang. Dari sini, Curug Cimarinjung juga terlihat di kejauhan.

IMG_5997


Dan saya pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.
Screenshot_2013-10-13-11-39-14
Karena baterai tab saya sudah menipis, google map sengaja saya matiin. Alhasil, setelah melewati 3x persimpangan dan tanya ke orang-orang yang ada di setiap persimpangan saya baru menyadari bahwa rute pulang saya beda dengan rute saya datang sebelumnya. Saya melewati jalur pegunungan, dengan jalan yang lebih sempit, rusak dan sepi. Ternyata ini rute yang lebih singkat untuk mencapai bagbagan Palabuhanratu.

Akhirnya saya aktifkan google map untuk membimbing saya.
Jalanan sepi, dan seakan saya tidak menemukan ujung keramaian atau jalan raya.
Langit mulai gelap, dan akhirnya gerimis yang cukup deras turun.
Lagu di tab saya sudah berhenti berputar karena lowbat, untungnya googlemaps masih aktif.
Saya tetap memacu motor saya, menerjang gerimis di kesunyian jalan ini.
Ditelinga kiri saya hanya sesekali terdengar suara yang menemani saya
“continues straight, five hundred meters turn left, then right. Stay in right.”



Akhirnya suara itu menghilang, empty batterey. Dalam hening saya terus memacu motor saya.
Untung tidak lama kemudian saya sampai di jalan raya, yang ternyata titik temunya adalah pertigaan Partilu. Kalau kita dari arah Palabuhanratu, sebelum memasuki area kebun teh saat di pertigaan Partilu, akan lebih cepat kalau kita belok kanan, ke arah jalur saya pulang tadi.

Saya pun nerhenti sejenak di warung yang ada di tepi pertigaan Partilu ini, sambil menunggu hujan reda. Secangkir kopi hangat membantu saya melawan dingin, sambil mereview kembali pengalaman-pengalaman saya tadi di Curug Cimarinjung tadi.

Memang curug Cimarinjung ini belum di buka menjadi area wisata, jadi kita tidak akan menemui petunjuk jalan menuju curug ini. Tapi miris juga rasanya, kalau ada warga desa Ciwaru yang belum mengetahui curug Cimarinjung dan keindahannya.
Sukabumi beruntung memilikinya.

Melalui tulisan ini, saya berupaya memperkenalkannya kepada Anda yang belum tahu.
Memperkenalkan keindahan Cimarinjung, yang layak untuk disanjung.

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Deviantart
  • Instagram @ajoe354
  • Facebook Angga Joe
  • My Whatsapp
  • Github Ajoe354

Search Site

 
  • Your IP Addres

    IP